5 Penyebab Turunnya Harga Crypto Tahun 2022

harga Crypto

idn – Sejak akhir November 2021, harga Bitcoin terus merosot. Per awal Juni 2022, Bitcoin bergerak di kisaran harga 30.000 dolar AS atau telah turun sebanyak 40% dari all-time-high di November 2021. Tidak hanya itu, keseluruhan market cap kripto mengalami penurunan ke angka 1,22 triliun dolar AS. Berikut ini adalah beberapa hal penyebab kenapa harga crypto turun drastis kali ini.

1. Kebijakan The Fed Lawan Inflasi dan Menaikkan Suku Bunga

Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Comittee/FOMC) pada 4 Mei lalu mmengumumkan kenaikan suku bunga sebanyak 50 basis poin, atau 0,5%. Ini merupakan kenaikan suku bunga yang kedua dari tujuh penyesuaian yang diharapkan akan diumumkan tahun ini. Pada bulan Maret lalu, Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, atau 0,25%, yang merupakan kenaikan pertama sejak 2018.

Sejak pengumuman The Fed untuk menaikkan suku bunga, pasar saham dan kripto diwarnai dengan berbagai reaksi negatif. Tekanan terhadap pasar ekuitas dan kripto cukup kuat, dengan Bitcoin kehilangan sekitar -6,5% dari nilainya pada 7 Mei 2022, atau beberapa hari sejak pengumuman FOMC.

Bitcoin kehilangan sekitar -6,5% dari nilainya pada 7 Mei 2022, atau beberapa hari sejak pengumuman FOMC.
Kemudian, pada 15 Juni, the Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin. Kenaikan suku bunga kali ini merupakan yang terbesar dalam 28 tahun. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka memutuskan untuk menaikkan kisaran target suku bunga dana federal ke kisaran 1,5%-1,75%. Hal ini menunjukkan sikap agresif Bank Sentral AS untuk menjinakkan inflasi, yang saat ini berada pada level 8,6 persen.

Menyusul pengumuman The Fed, pasar saham dan crypto bereaksi positif sehari setelahnya. Akan tetapi, BTC kemudian menurun dan terus jatuh. Selama seminggu terakhir, BTC mengalami penurunan sebesar -29%, sementara ETH mengalami penurunan sebesar -31% pada saat penulisan ini (18 Juni 2022). Kapitalisasi pasar BTC turun menjadi 355 miliar dolar AS, dan dominasinya telah berkurang menjadi lebih dari 44%.

💡 Kenapa diperlukan kenaikan suku bunga untuk menghambat laju inflasi?

Alasan utama kenaikan suku bunga adalah inflasi yang melonjak, yang naik sebesar 8,6% year-on-year menurut data dari Consumer Price Index (CPI) terbaru. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan para analis.

Dengan menaikkan suku bunga, pinjaman dan pengeluaran diharapkan akan melambat, sehingga peredaran uang akan berkurang dan pada akhirnya menekan laju inflasi. Akan tetapi, dengan meningkatnya biaya pinjaman, pertumbuhan ekonomi akan melambat dan berpotensi mengurangi lapangan pekerjaan.

2. Korelasi yang Semakin Tinggi antara Kripto dan Pasar Ekuitas

Pergerakan S&P 500 (biru), Nasdaq (hijau), Bitcoin (jingga), dan Ethereum (ungu) selama 6 bulan terakhir. Sumber: Yahoo Finance
Saat ini pasar crypto sangat berkorelasi dengan pasar ekuitas, terutama NASDAQ. Sehingga, pergerakan pasar ekuitas yang negatif membuat pasar crypto sensitif dan menurun juga. Selama bertahun-tahun, Bitcoin dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Akan tetapi, tidak demikian halnya di tahun 2022. Pada bulan Januari tahun ini, Bitcoin mencapai tingkat korelasi tertinggi dengan S&P 500 dan Nasdaq sejak tahun 2020.

Seiring kenaikan suku bunga AS, aset yang dianggap berisiko dan fluktuatif seperti kripto dan saham akan mendapatkan tekanan jual yang lebih berat dibandingkan aset lain. Untuk saat ini, harga saham teknologi dan kripto turun beriringan.

3. Kekhawatiran Akan Terjadinya Resesi

Kenaikan suku bunga membuat pinjaman lebih mahal dan membantu memerangi inflasi dengan meredam permintaan. Akan tetapi, kenaikan suku bunga memicu ketakutan akan datangnya resesi, karena kebijakan tersebut akan melemahkan pertumbuhan ekonomi. Ketakutan akan terjadinya resesi ini merupakan salah satu penyebab melemahnya pasar, baik itu saham maupun kripto akhir-akhir ini.

Kekhawatiran akan terjadinya resesi ini mengakibatkan berkurangnya laju minat untuk berinvestasi di sektor-sektor yang dianggap berisiko tinggi, seperti saham dan juga kripto.

💡 Dampak dari langkah yang diambil the Fed mengarah pada perlambatan yang akan terlihat jelas pada kuartal mendatang, ujar Andrzej Skiba, Head of Fixed Income di BlueBay Asset Management yang dikutip oleh Forbes. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa the Fed perlu dilihat telah mengambil langkah untuk memerangi inflasi. “[Semua] yang akan tergantung pada apakah inflasi merespons dengan cukup cepat [terhadap kebijakan The Fed]”, tambahnya.

4. Kondisi Geopolitik (Rusia vs Ukraina)

Pada awal Juni 2022, Bank Dunia memperingatkan bahwa harapan untuk mencegah resesi semakin memudar dengan terus berlangsungnya perang di Ukraina. Perang di Ukraina menyebabkan krisis pangan dan bahan bakar. Kenaikan tajam harga komoditas telah menjadi dampak ekonomi paling langsung dari konflik Ukraina

Di hari pertama invasi Rusia vs Ukraina pada tanggal 24 Februari 2022, terjadi kepanikan di pasar dan investor lebih dominan untuk menghindari risiko dengan cara menjual aset yang dinilai berisiko seperti saham dan kripto. Bitcoin yang dinilai sebagai aset investasi yang berisiko mengalami penurunan harga yang signifikan dan merosot ke 34.000 dolar AS dari 40.000 dolar AS. Di saat yang sama, saham global merosot, sementara dolar, emas, dan harga minyak meroket lebih tinggi karena investor berebut aset yang dianggap sebagai safe-haven.

5. LUNA & UST Crash

Dimulai dari tanggal 7 Mei 2022, UST mengalami depeg atau tidak lagi bernilai sama dengan dolar AS, dan turun hingga mencapai 0.06 dolar AS pada 13 Mei 2022. Sebagai dampaknya, token LUNA mengalami hiperinflasi dalam upaya menstabilkan nilai UST. Harga LUNA pun jatuh 100% ke level 0,0002 dolar AS.

Tidak hanya didorong oleh situasi makro dan juga geopolitik, menurunnya nilai Bitcoin dan aset kripto lainnya juga disebabkan oleh berbagai situasi di dalam industri kripto itu sendiri. Pada 13 Mei, stablecoin Terra, UST, yang nilainya dipatok 1:1 dengan dolar AS jatuh hingga hanya bernilai 0.06 dolar AS.

Terjadinya depeg, atau jatuhnya harga UST ini berdampak pada merosotnya harga LUNA, “protocol token” dari Terra yang berfungsi menjaga nilai UST tetap setara dengan dolar AS. Per 13 Mei 2022, beberapa platform pertukaran aset kripto tidak lagi memperjualbelikan LUNA karena harganya yang terus turun hingga hanya bernilai 0.0002 dolar AS dari 80 dolar AS seminggu sebelumnya.

💡 Sebelumnya, LUNA merupakan salah satu token yang termasuk dalam peringkat 10 besar kapitalisasi pasar menurut Coin Market Cap. Jatuhnya harga LUNA menyebabkan menguapnya 41 milyar dolar AS market cap LUNA menjadi hanya 500 juta dolar AS hanya dalam waktu 24 jam.

Pada puncak terjadinya depeg UST (10-12 Mei 2022), Bitcoin mengalami penurunan pertamanya ke angka 27 ribu dolar AS sejak Juli 2021. Apabila kita menyesuaikan dengan respon Terra, ini sesuai dengan waktu di mana Luna Foundation Guard (LFG) menjual sekitar 80 ribu cadangan BTC-nya dalam upaya mengatasi depeg. Penjualan masif ini menjatuhkan harga Bitcoin dan membawa seluruh pasar kripto bersamanya.

Ditambah lagi, pemberi pinjaman aset kripto dari AS, Celcius, baru-baru ini membekukan penarikan dan transfer antar akun, yang selanjutnya memicu kekhawatiran penurunan yang lebih luas di pasar aset digital yang sudah terguncang oleh LUNA dan UST crash bulan lalu.

Artikel yang Direkomendasikan